Shopping cart:
Jumlah = pcs
Keranjang
085100365046 & 03151165499 & 087854796770 & 081216928120 & 087851856665
7D59897C
Customer service 1
Customer service 1

jual tali tambat tali tros tali propeline harga tali kapal mooring rope

jual tali tambat tali tros tali propeline harga tali kapal tali mooring rope

tali polypropilene monofilament dan multyfilament atau tali nylon
Tali putih strip biru dan tali nylon putih polos atau tali sutera tali 3strand dan 8strand cir6 cir7 cir8 cir9 cir10 cir12 dll
Fungsi mooring pada prinsipnya adalah untuk “mengamankan” posisi kapal agar tetap pada tempatnya. Secara umum, mooring system yang digunakan untuk FSO/FPSO (Floating Production Storage and Offloading) adalah Spread Mooring, Turret Mooring, Tower Mooring, dan Buoy Mooring.

1. Spread Mooring

Boleh dibilang spread mooring adalah cara yang paling sederhana sebagai sarana tambat FSO/FPSO, karena pada system ini tidak memungkinkan bagi kapal untuk bergerak/berputar guna mencapai posisi dimana efek-efek lingkungan semisal angin, arus dan gelombang relative kecil. Namun hal ini akan mengakibatkan beban lingkungan terhadap kapal menjadi semakin besar, yang mana akan mengakibatkan bertambahnya jumlah mooring lines dan atau line tension-nya.
Peralatan yang digunakan biasanya merupakan peralatan yang pada umumnya sudah tersedia di kapal. Pada system ini digunakan satu set anchor legs dan mooring lines yang biasanya terletak pada posisi bow dan stern kapal. Karena peralatan yang digunakan relative sederhana, maka tidak perlu dry docking untuk melakukan modifikasi terhadap mooring systemnya. Spread mooring dapat diterapkan pada setiap type kapal, namun dengan tetap memperhatikan fasilitas produksi di atas kapal. Pada FPSO Belanak Natuna yang di atasnya terdapat fasilitas produksi crude oil dan LPG, maka posisi fixed heading menjadi kebutuhan yang sangat penting dan oleh karenanya digunakan system spread mooring, karena pergerakan/perputaran dari kapal akan sangat berpengaruh pada proses produksi LPG. Pada system ini, peralatan offloading biasanya terletak di bow atau stern kapal, atau dengan menggunakan buoy yang didedikasikan khusus untuk sarana transfer cargo.
2. Turret Mooring
Pada system ini kapal dihubungkan dengan turret, yang mana dengan adanya bearing memungkinkan kapal untuk dapat berputar. Dibandingkan dengan spread mooring, pada system ini riser dan umbilical yang diakomodasi dapat lebih banyak lagi. Turret mooring dapat berupa external turret atau internal turret :
External Turret
External Turret dapat diletakkan pada posisi bow atau stern kapal, di luar lambung kapal, memungkinkan kapal untuk dapat berputar 360 derajat dan beroperasi pada kondisi cuaca normal maupun extreme. Chain leg “ditanam” di dasar laut dengan anchor atau piles. Biaya pembuatannya lebih murah dibandingkan dengan internal turret dan modifikasi yang dilakukan di kapal tidak terlalu banyak. Selain posisi turret, perbedaan lain dibandingkan dengan internal turret adalah posisi chain table-nya. Pada external turret, chain table terletak di atas water level, sedangkan pada internal turret, chain table terendam di bawah garis air. Pada umumnya system ini digunakan di perairan yang tidak terlalu dalam dan pada lapangan yang relative kecil.Contoh aplikasi di Indonesia : FPSO Anoa Natuna
Internal Turret
Keunggulan system ini adalah dapat terpasang secara permanen maupun tidak (dis-connectable), dapat diaplikasikan pada lapangan dengan kondisi lingkungan yang moderat sampai ekstrim, dan sesuai untuk deepwater. System ini dapat mengakomodasi riser hingga 100 unit dan kedalaman laut hingga 10,000 feet. Rasanya belum ada contoh aplikasi di Indonesia.
3. Tower Mooring
Pada system ini FSO/FPSO dihubungkan ke tower dengan suatu permanent wishbone atau permanen/temporary hawser. Sesuai untuk laut dangkal hingga sedang dengan arus yang cukup kuat.Keuntungannya adalah :
Transfer fluida yang sederhana, dengan menggunakan jumper hoses dari tower ke kapal,
Akses langsung dari kapal ke tower,
Modifikasi yang tidak terlalu banyak pada kapal,
Semua mechanical equipment terletak di atas sea level.
Contoh aplikasi di Indonesia : FSO Ladinda

4. Buoy Mooring
Pada system ini sebuah buoy digunakan sebagai mooring point kapal dan untuk offloading fluida. Tujuan utamanya adalah untuk transfer fluida dari daratan atau fasilitas offshore lainnya ke kapal yang sedang ditambatkan. Komponen-komponennya antara lain:
Buoy Body, sebagai penyedia stabilitas dan buoyancy
Komponen Mooring dan Anchoring, menghubungkan buoy dengan seabed dan hawser menghubungkan buoy dengan kapal

  • 3 Strand Polypropylene Rope
  • 8-Strand Polypropylene Hawser
  • 3 Strand Manila Rope
  • PP Mooring Rope
  • 8-Strand PP Hawser
  • 3 Strand Rope
  • 8 Strand Rope
  • 12 Strand Mooring Rope
  • 16 Strand Braided Rope
  • Double Braided Rope
  • 3-Strand Nylon Rope
  • Atlas Mooring Rope
  • UHMWPE Dyneema Mooring Rope
  • Karat Winchline
  • Anchor Line Mooring Rope
  • Karat Maxi Mooring Line
  • Towing Line
  • Mooring Tail
  • Mooring Rope
  • Dock Line Nylon Rope
  • PP / PET Mixed Rope
  • Winch Line
  • Mooring Line
  • Braided Rope
  • Twisted Rope
  • Wire Rope

Mooring Rope
Original Picture

  • Product Name:Mooring Rope
  • Model No.:Mooring Rope
  • Price:
  • Minimum Order:1

Product Abstract:

Product Description
Mooring Rope
Applications :  mooring lines,tug assist lines,winch lines,dock line,wire rope replacement
General Specification
Type Mooring Rope
HS Code 560750090
IMPA Code 210201  ~  211434
Certificate ABS,BV,CCS,DNV,GL,LR,NK,KR,etc…
Diameter
20   ~  160  mm         Other sizes available upon request.
Material Nylon,PP,Polyester,Mixed,UHMWPE
Structure 8 Strand,12 Strand, 16 Strand, Double Braided
Coil Length 220 m    /     As your requirement.
Packing Details
Packing Woven Bag  /  As your requriement
Others One of the strongest fiber rope on the market.

Rekening Bank

H ABDUL JALIL
LULUK MUASAMAH

Print & Download Katalog

Laman

031 31365046
03171337587
087854796770
Pin BB : 7D59897C

Customer service 1